Kaos Peresean

Kaos Peresean adalah kaos, tees, shirt, & t shirt berornamen stailisasi gambar obyek dan kata-kata bertema tentang Peresean, seni budaya tradisional suku Sasak, Lombok Indonesia.

Kaos Peresean berbahan Cotton Combed berkualitas, yakni katun berbahan baku serat kapas alami, berserat benang halus, rajutan tipis rapi rata, sehingga saat digunakan terasa lembut, adem di badan, serta optimal menyerap keringat.

kk-lombok-1

Sablon gambar Kaos Peresean menggunakan bahan-bahan sablon bermutu tinggi, seperti Rubber / karet, sehingga keunikan ornamen Peresean di Kaos Sasak bisa awet / bertahan lama.

Kaos Peresean tersedia size / ukuran S / kecil, M / sedang, L / besar, XL / extra besar. Tersedia juga ukuran besar / big size: 3L, 4L,5L, & 6L. Pilihlah ukuran kaos yang sesuai dengan ukuran badan agar kaos nyaman saat dikenakan.

Peresean

Selain karena alasan estetis & artistik, kehadiran Kaos Peresean semoga bisa membantu menjaga eksistensi tradisi, seni dan budaya asli suku bangsa Sasak Lombok, khususnya tradisi Peresean.

Peresean adalah tradisi suku Sasak berupa pertarungan antara dua lelaki bersenjatakan tongkat rotan dan berperisai (ende) kulit kerbau / sapi yang tebal dan keras.

Kemunculan Peresean konon berawal dari kisah legenda Ratu Mandalika yang bunuh diri karena melihat dua orang berkelahi hingga mati karena merebutkan cintanya. Ada juga yang mengisahkan, Peresean muncul dari pelampiasan emosional para raja Sasak ketika akan dan atau selesai perang melawan musuh-musuhnya.

Tradisi Peresean masih dilakukan oleh suku Sasak yang masih memegang teguh tradisi leluhurnya.  Bagi Suku Sasak, Peresean bernilai sakral, karena merupakan upaya permohonan hujan kepada Tuhan. Masyarakat Sasak percaya, semakin banyak darah tumpah dari tubuh Pepadu akibat luka sabetan rotan, kemungkinan turun hujan semakin besar.

Selain bernilai sakral, Peresean juga berfungsi sebagai seni atraksi budaya ajang pertunjukan keberanian, ketangkasan dan ketangguhan seseorang dalam pertempuran.

Atraksi bela diri Peresean hanya boleh dilakukan oleh kaum laki-laki remaja / dewasa. Pemain Peresean disebut Pepadu. Jumlah Pepadu tidak dibatasi, namun pertarungan harus dilakukan satu lawan satu.

Pemilihan Pepadu dilakukan dengan dua cara, yakni: (1) Pepadu yang berada di arena menantang salah satu penonton untuk melakukan pertarungan; (2) Panitia pertandingan memilih langsung para calon Pepadu dari para penonton yang hadir.

Panitia pertandingan yang mengatur permainan Peresean disebut Pekembar / Pekembarakan.  Pakembar terdiri dari Pekembar Tengaq (tengah) dan Pekembar Sedi (pinggir). Pekembar Tengaq adalah orang yang bertugas layaknya wasit, yakni memimpin dan mengawasi jalannya permainan agar sesuai dengan awig-awig atau peraturan yang telah ditetapkan.

Pekembar Tengaq dibantu oleh Pekembar Sedi. Pekembar Sedi bertugas memilih calon Pepadu yang seimbang, serta sebagai juri pemberi nilai pada setiap pukulan Pepadu serta menetapkan pemenangnya. Selain itu ada juga yang bertugas sebagai “tukang adu” yang disebut Pengadok.

Awig-awig adalah peraturan permainan Peresean, yang mengatur (1) waktu pertarungan, yakni menggunkan sistem ronde, biasanya tiga hingga lima ronde yang ditandai dengan peniupan peluit oleh Pekembar Tengaq; (2) Tempat pemukulan di tubuh, yakni Pepadu hanya boleh memukul bagian atas tubuh (kepala, pundak, punggung). Pukulan dilarang mengenai bagian bawah tubuh lawan (dari pinggang hingga kaki); dan (3) Penentuan pemenang, yakni menggunakan sistem nilai yang diberikan oleh Pekembar Sedi, jika kedua Pepadu mampu bertahan dan tidak mengeluarkan darah hingga ronde terakhir. Namun, apabila seorang Pepadu berdarah akibat sabetan rotan lawan, maka ia dinyatakan kalah. Pertarungan langsung dihentikan. Lawannya dinyatakan sebagai pemenang.

Peresean biasanya dilakukan di tanah lapang. Agar berlangsung meriah, Peresean diiringi musik yang disebut Gendang (Gending) Peresean. Instrumen Gending Peresean terdiri dari: satu gong, dua gendang, satu  petuk, satu set rencek / rincik, dan satu suling bambu.

Gending Peresean dibagi tiga, yaitu: (1) Gending Rangsang atau Gending Ngadokang, dimainkan pada saat Pekembar dan Pengadok mencari Pepadu yang akan ditandingkan; (2) Gending Mayuang, dimainkan sebagai tanda bahwa telah ada dua orang Pepadu yang siap melakukan Peresean; (3) Gending Beradu yang dimainkan selama pertandingan berlangsung dengan tujuan untuk membangkitkan semangat Pepadu maupun para penonton yang menyaksikan.

Oke, semoga bermanfaat. Ayo gunakan kaos kota,cintai kota kita.

bahan-stempel-com-450

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Outlet KaosKota.com Jl. Dr Wahidin No.50 Rembang Jateng Indonesia, SMS / WA: 081328911155

bikin-stempel-com-450

css.php

Copyright © 2015 - 2018 KaosKota.com All Rights Reserved.
Jakarta - Indonesia

Master Toko Online e-Commerce

X